Tuesday, May 4, 2010

Perlukah kita memahami pola pikir anak?

Jawaban atas pertanyaan di atas adalah: Jelas sangat perlu, supaya terjalin hubungan yang harmonis dan terbuka antara ortu dan anak.
Lalu bagaimana caranya?

Pertama:

Mari kita mengingat masa kecil kita sendiri. Bagaimana cara kita memandang hidup pada waktu kita masih kanak-kanak. Hal ini dapat menjadi tolok ukur agar kita mampu memahami anak kita pada usia mereka sekarang.

Kedua:

Kenalilah sifat setiap anak yang unik (tidak ada yang sama) dan memiliki ciri tertentu. Dari situ kita akan dapat memberikan tugas-tugas dan menyadarkan mereka akan kewajibannya sesuai dengan usia dan kemampuan mereka.
Contoh: ada anak yang sifatnya mudah mengerti dan menurut karena memang sifatnya suka pada semua aturan yang ada, baik aturan di sekolah maupun di rumah. Tetapi ada juga anak yang selalu ingin bebas dalam berpikir, bertindak karena menurutnya segala sesuatu ditentukan dengan intuisi yang dia punyai. Tentu saja sifat2 ini hanya akan mudah dideteksi oleh orang tua si anak.

Orang tua harusnya menyadari bahwa:
  1. mereka perlu ruang gerak dan waktu lebih banyak untuk bermain dan bereksplorasi lebih banyak dari kita.
  2. mereka perlu pendampingan hampir disetiap kegiatan yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan2 yg senantiasa muncul bila mereka melihat hal2 baru atau kejadian2 aneh. (kalaupun ortu bekerja dan tidak ada banyak waktu bersama anak, hal ini dapat digali dari cerita2 anak ttg apa saja yang sudah dikerjakan dan kejadian sehari2 yg dialami)
  3. mereka harus dihargai pendapat dan dipenuhi keinginannya (apabila ortu mempunyai pendapat dan keinginan berbeda, coba lihat lagi dari sudut pandang anak kita, apabila mungkin, diskusikan bersama)
  4. Mereka harus diberi kepercayaan dan tanggung jawab dalam memecahkan masalah mereka menurut nilai2 yang sudah kita bangun dan tanamkan sejak kecil.
Read More..

Sunday, March 14, 2010

DIDIK ANAK SESUAI FASE UMUR MEREKA

Dalam Amsal 22:6 tertulis, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”
“Teach a child how he should live, and he will remember it all his life.” (Today’s English Version).

Setiap manusia punya fase-fase umur tertentu, yaitu masa kanak-kanak, masa remaja, dewasa muda, dewasa dan masa tua.

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya” berarti: sebagai orangtua, kita harus mengerti pendidikan yang sesuai untuk fase umur yang sedang dijalani oleh anak-anak kita.

Contoh, ketika mereka masih kecil (untuk masa kanak-kanak pun terdapat pendidikan khusus untuk setiap rentang umur tertentu, contoh untuk masa batita, masa balita, dll), didiklah mereka dengan pendidikan/pola asuh untuk anak kecil.

Yang sering kali terjadi adalah, orangtua LUPA bahwa anak-anak mereka sudah menginjak fase umur berikutnya. Ini mengakibatkan didikan orangtua sudah TIDAK SESUAI lagi.

Contoh, ketika si anak sudah menginjak remaja, orangtua tetap dengan gaya didik yang sama seperti ketika si anak masih kecil. Masih diomelin, masih didikte dengan penuh otoritas karena merasa si anak tidak bisa dilepas sendiri alias tidak bisa dipercayai.

Akibatnya, anak mulai memberontak dengan alasan “masih diperlakukan seperti anak kecil”. Mereka mulai berani membantah apa kata orangtua, karena mereka sudah remaja, dan punya pendirian serta pendapat sendiri tentunya. Hal ini tidak disadari orangtua, tetapi justru membuat orangtua semakin marah dan kesal. Orangtua menganggap anaknya “kurang ajar”, karena berani membantah perkataan orangtua.

Jika ini dibiarkan terus terjadi, jangan kaget jika anak-anak kita menjadi semakin jauh dari yang kita harapkan. Kita berharap anak kita belajar rajin, ternyata justru sebaliknya, si anak mulai sibuk dengan urusannya sendiri dan bahkan sengaja melakukan hal yang bertentangan dengan keinginan dan pengharapan orangtua.

Bagi para orangtua, bacalah sekali lagi ayat di atas, lalu DIDIKLAH anak-anak kita sesuai umur mereka. Orangtua berhak punya otoritas yang tidak bisa diganggugugat ketika anak-anak masih kecil. Karena seorang anak kecil belum bisa mengambil keputusan sendiri, belum bisa membedakan mana benar, mana salah. Tetapi ketika mereka mulai remaja, otak mereka berkembang, pergaulan mereka juga sudah jauh berbeda, tontonan yang mereka pilih, gaya berbicara, berpakaian, bersikap, dll, akan mengalami perubahan. Jadi jangan samakan pendidikan untuk mereka seperti waktu mereka masih kecil dulu, atau kita justru akan “kehilangan” seorang pribadi yang kepadanya kita mengharapkan segala yang terbaik.

Sebagai orangtua, perlengkapi diri dengan pengetahuan tentang mendidik anak, sesuai fase umur mereka…. Dan tepat seperti Firman Tuhan katakan, “…maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

Selamat menjadi orangtua yang bijaksana!(-R-)
Read More..

Sunday, February 28, 2010

TRUST

Memiliki hubungan baik dimanapun kita berada itu penting, entahkah itu dalam keluarga, pertemanan, pekerjaan, pelayanan, dan lain-lain. Tapi yang JAUH lebih penting lagi adalah memiliki rasa saling percaya atau trust didalam setiap bentuk hubungan tersebut. Dan ketika rasa saling percaya tadi kita temukan dalam hubungan yang kita jalin dengan siapapun, maka hubungan itu adalah sebuah hubungan yang sehat!

Satu hal bisa dijadikan tolok ukur apakah sebuah hubungan dikatakan sehat atau tidak, yaitu Uang.

Di dalam keluarga kita, cobalah tanyakan kepada diri sendiri beberapa pertanyaan menyangkut tolok ukur “Uang”, sebagai berikut:
  1. Ketika kita membeli sebuah mobil pribadi dan mengatasnamakan (meminjam atas nama) kepemilikan mobil tersebut di bawah nama orangtua (ayah atau ibu), pasangan (istri/suami), saudara sekandung (kakak/adik), percayakah kita bahwa satu saat nanti harta tersebut tidak akan di-sengketa-kan oleh pemilik nama yang kita pakai/pinjam tadi?
  2. Percayakah kita meminjamkan uang pribadi dalam jumlah tidak kecil kepada saudara sekandung tanpa perjanjian tertulis, untuk jangka waktu lebih dari 1 bulan (bahkan beberapa tahun), secara lisan saja bahwa pinjaman uang akan dikembalikan beserta “poin-poin perjanjian tertentu lain” misalnya mengenai pembayaran bunga, dan lain-lain?
Jika jawaban atas kedua pertanyaan di atas adalah “100% YA”, maka hubungan yang kita miliki dalam keluarga adalah hubungan yang sehat!

Bagaimana caranya memiliki rasa saling percaya? Sebuah hubungan menyangkut dua paradigma penting, yaitu:
1. Tidak datang dengan sendirinya
2. Perlu diuji dengan waktu

Begitu juga dengan Kepercayaan. Contoh, seorang staf baru bisa saja terlihat jujur dalam jangka waktu 1 minggu. Tapi seiring berjalannya waktu, staf yang sama kedapatan “tidak dapat dipercaya” karena telah melakukan penggelapan uang perusahaan pada saat ia telah bekerja selama 6 bulan!
Masalahnya bukan cuma terdapat pada staf tersebut, melainkan juga karena sebuah kepercayaan tidak datang dengan sendirinya, dan harus diuji, salah satu dan terutama adalah melewati ujian waktu!
Itu sebabnya perusahaan memiliki peraturan “probation” atau masa percobaan selama jangka waktu tertentu bagi setiap karyawan barunya.
Mempercayai seseorang, atau orang lain yang memercayai kita, sangat membutuhkan ujian waktu.

Berikut hal penting yang harus ada dalam sebuah hubungan yang sehat (memiliki trust di dalamnya): Komunikasi yang efektif.
Seperti apakah itu? Yaitu yang memenuhi dua syarat:
Terus menerus
selalu ada waktu yang berkesinambungan untuk menjalin komunikasi satu sama lain. Jika komunikasi dilakukan 1 bulan satu kali dalam durasi hanya 10 menit, wajar jika hubungan itu akan membawa banyak kesalahpahaman di antara kedua belah pihak.
Dari hati ke hati.
kedua pihak harus bisa berbicara dari hati, dan bukan hanya basa-basi.
Kalau ada “ganjalan” di hati yang membuat kita gusar, bertanya-tanya, dan lain-lain, maka kemungkinan besar karena komunikasi tidak dilakukan secara terus menerus dan dari hati ke hati.

Tapi ingat! Komunikasi yang efektif juga harus melihat:
Tempat yang tepat
Dalam arti nyaman untuk berkomunikasi. Bukan waktu di tengah keramaian sehingga banyak gangguan dalam berkomunikasi.

Waktu yang tepat
Pada waktu yang tidak terburu-buru, bukan waktu “selingan”, tapi khusus dan cukup banyak waktu untuk berkomunikasi dengan baik.

Cara yang tepat
Singkirkan dulu persepsi yang keliru dan berkomunikasilah dengan hati dan pikiran “bersih”. Perhatikan nada suara, tidak meninggi/penuh emosi.

Selamat memiliki hubungan yang baik dengan siapapun! ®
Read More..

Sunday, January 31, 2010

HAL-HAL BARU

Semua manusia punya satu kecenderungan sama yaitu selalu ingin tahu atau punya keingintahuan yang besar. Dan itu terlihat sejak kecil. Seorang anak kecil sangat menyukai ketika ia menemukan atau diajari hal-hal baru.

Satu ketika, saya memberitahu seorang keponakan perempuan untuk membuat icon LOL (laugh out loud) di Yahoo Messenger. Dia sangat senang mendapat “pengetahuan baru” tersebut. Tidak hanya satu kali dia mencoba ulang, tapi berkali-kali, lagi dan lagi karena takjub melihat tanda baca “titik dua” dan “kurung tutup” yang ketika ia ketikkan pada jendela YM, lalu ditekannya “enter” maka tanda tersebut berubah menjadi gambar smiley yang tertawa terbahak-bahak.

Itu baru satu hal kecil yang baru. Bagaimana dengan hal-hal baru lain yang tidak pernah kita sebagai orangtua mengajarkannya di rumah? Maka anak-anak kita pasti mencari tahu sendiri dengan caranya masing-masing. Apakah itu bertanya kepada teman, mendengar cerita teman, melihat lalu meniru tingkah laku teman, dan lain-lain.

Sebagai manusia, tentu orangtua punya keterbatasan dalam hal kehadiran. Kita tidak akan pernah sanggup selalu berada di samping anak-anak kita, 24 jam 7 hari seminggu.
Itu sebabnya penting bagi orangtua untuk selalu:
1. Berdoa
Selalu mendoakan anak-anak kita (setiap hari) agar dikelilingi oleh pergaulan yang benar. Kebanyakan, pornografi diperkenalkan kepada seorang anak kecil dari teman sekolah mereka.

2. Mengajar
Orangtua harus suka mengajarkan hal-hal baru kepada anak-anak mereka, khususnya yang seringkali disalahgunakan oleh dunia di luar sana(di luar kontrol orangtua). Ketika anak-anak banyak/sering mendapatkan pelajaran baru dari orangtua mereka di rumah, maka mereka tidak akan menyalurkan keingintahuan mereka di luar sana

3. Mendengar
Orangtua harus mau terbuka mendengarkan cerita setiap anaknya (dalam arti tidak langsung menghakimi atau menasihati dulu, cukup didengarkan) agar mereka juga terbuka atau merasa nyaman menceritakan apapun yang mereka ingin ceritakan/tanyakan kepada orangtua.

Kita tahu bahwa iblis mengincar setiap anak-anak untuk mereka rusak, khususnya secara jiwa (pikiran, perasaan, kehendak). Melalui media apapun, pornografi dengan gampang didapatkan oleh seorang anak kecil, belum lagi tayangan kekerasan yang disisipkan dalam film anak-anak, dan lain-lain “akal bulus” iblis untuk memenuhi tujuannya menjatuhkan generasi kita.

Jangan biarkan anak-anak mencari “pengetahuan baru” di luar sana!

Selamat berdoa, mengajar, dan menjadi pendengar yang baik! (ER)
Read More..

Sunday, January 17, 2010

AKU DATANG SEGERA, ADAKAH IMAN DI BUMI?

Dimana ada iman disitu ada pengharapan akan campur tangan TUHAN untuk terjadinya mukjizat, karena sesungguhnya kunci sukses adalah “G factor” alias "God" only. Iman adalah dasar dari segala sesuatu (mukjizat) yang tidak terlihat atau jauh tersembunyi dalam hati manusia selama kurun waktu tertentu.

Iman ini sangatlah penting dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Dalam pekerjaan butuh iman untuk sukses. Bayangkan apabila setelah kita bekerja sungguh-sungguh tapi tidak punya keyakinan bahwa kita pasti sukses atau dengan kata lain kita tidak berharap apa yang kita kerjakan akan sukses. Apa yang terjadi?

Dalam berkeluarga butuh iman untuk menjadi keluarga yang bahagia. Kalau pernikahan kita tidak disertai perharapan akan suatu kehidupan yang lebih baik dan bahagia, maka masing-masing individu dalam keluarga tidak akan mengusahakan kebahagiaan bersama.

Dalam mendidik anak sangat dibutuhkan iman akan kesuksesan anak kita kelak, agar kita tak jemu dalam membina mereka. Dengan keyakinan bahwa anak kita akan menjadi pribadi yang lebih sukses dari keadaan kita sekarang, maka kita akan tetap bersemangat dalam mendidik dan mengasuh mereka.

Dalam beribadah kita juga butuh iman untuk menjalankannya dengan pengertian benar akan siapa yang kita sembah, sehingga kita tidak sekedar ikut-ikutan.
Dalam hubungan dengan sesama juga diperlukan iman bahwa kita harus berbagi beban dan kenikmatan agar kita bisa belajar hidup lebih baik lagi. Jadi, sekali lagi milikilah iman. (Cicilia Liem)

Read More..

Pernikahan Antar Dua Pribadi Dewasa = Pernikahan Bahagia


Banyak masalah terjadi dalam sebuah Rumah Tangga dan bila disikapi secara “tidak dewasa”, maka masalah akan semakin besar. Untuk itulah diperlukan kedewasaan dalam membangun sebuah rumah tangga! Dan bila pribadi yang masuk dalam pernikahan adalah pribadi yang dewasa, maka dipastikan biduk pernikahan akan menjadi sebuah “heaven on earth” dan bukan sebaliknya, “hell on earth”.

Ciri-ciri pribadi dewasa:
1. Tidak egois
Artinya tidak melulu memikirkan diri sendiri. Tapi ada tipe orang yang “rela berkorban” demi mencari penghargaan dari orang lain. Tipe ini bukanlah orang “dewasa” yang dimaksud. Karena pengorbanan yang dilakukan oleh orang dewasa selalu keluar dari ketulusan dan bukan kepura-puraan. Untuk yang satu ini, ujian waktu akan membuktikan mana kedewasaan yang sesungguhnya.

2. Punya Emotional Quotion tinggi
Bisa diartikan sebagai “tahu bagaimana menghadapi orang lain” atau tahu menempatkan/membawa diri. Cepat mamahami kedaan dan kepribadian pasangannya. Mempunyai hati yang bisa menerima kelebihan dan kekurangan orang lain.

Seorang anak kecil tidak gampang merelakan haknya. Tetapi orang dewasa mudah mengalah atau merelakan haknya apabila itu diperlukan untuk kebahagiaan bersama.
Contoh: seorang suami atau istri yang bertindak dewasa setelah menikah akan tahu bahwa posisinya sekarang sudah tidak sama lagi (tidak lagi lajang/bujangan) sehingga dia harus rela lebih banyak berkumpul dengan keluarga untuk membangun hubungan yang harmonis ketimbang clubbing at weekend atau melakukan hobinya bermain sepakbola bersama teman-temannya.

3. Bijaksana
Artinya, setiap ada masalah, dia bisa memosisikan dirinya di posisi orang lain yang terlibat masalah sama, sehingga bisa melihat masalah dengan bijaksana, dari berbagai sudut pandang orang-orang lain dan tidak mudah menghakimi tetapi sebaliknya bisa menjadi “problem solver”. (Cil)
Read More..

Friday, December 18, 2009

Apa TUJUAN PERNIKAHAN?

Tujuan pernikahan bukanlah kebahagiaan (happiness) seperti yang diangan-angankan banyak muda-mudi sebelum menikah, melainkan pertumbuhan (growth). Kebahagiaan itu justru ditemukan di tengah-tengah perjalanan (proses) pernikahan yang dilandasi cinta kasih Kristus.

Kalau tujuan kita menikah adalah bahagia maka pasangan kita akan kita peralat demi mencapai kebahagiaan itu. Itu sebabnya orang yang menikah dengan tujuan bahagia justru yang paling tidak bahagia dalam pernikahannya. Bahkan tujuan ini banyak mengakibatkan perceraian dengan alasan ia tidak merasa bahagia dengan pasangannya.


Agar pernikahan itu bertumbuh maka ada dua syarat yang mesti dimiliki setiap pasangan, yakni:
(a) masing-masing sudah menerima pengampunan Kristus, sehingga masing-masing mampu saling mengampuni selama berada dalam rumah nikah yang masing-masing penghuninya bukanlah orang yang sempurna. Usaha diri sendiri saja pasti akan gagal.

(b) adaptability, artinya masing-masing tidak memaksa atau menuntut pasangannya, sebaliknya mampu saling memahami dan memberi. Masing-masing menjalankan peran (role) dengan baik, serta mampu menerima kelemahan dan kekurangan pasangannya.
Read More..

Thursday, November 19, 2009

KETIKA ANAK BERCERITA KEPADA ORANGTUA

Kalau orangtua diajak bicara oleh anaknya, biasanya seperti ini:
1. terlalu cepat menimpali pembicaraan si anak.
Anak belum selesai bercerita, orangtua sudah memotong cerita itu, dan membuat si anak menarik diri dan tidak lagi melanjutkan ceritanya karena melihat gejala “ditolak” oleh orangtuanya.

2. terlalu cepat menyimpulkan dan memberi nasihat.
Anak belum selesai bercerita, orangtua sudah memberikan nasihat yang sesungguhnya si anak sudah bisa menebak akan dinasihati apa. Ini membuat si anak akhirnya menarik diri dan batal bercerita.

Ingat, seorang anak hanya bercerita kepada orangtua/orang lain jika ia merasa “aman” dan “nyaman” menceritakan kisahnya kepada orang tersebut.

Tapi bila kondisi ini tidak terpenuhi karena kedua hal di atas, akibatnya si anak akan mencari “tempat curhat” yang lain. Dan itu sama artinya dengan tidak lagi menceritakan isi hati kepada orangtuanya. Padahal… dalam hati anak banyak tersimpan “rahasia”, bagaimana perasaannya yang terdalam tentang segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya. Dan untuk ini orangtua harus tahu apa yang sedang disimpan dalam hati anak-anaknya, karena jika tidak, maka orangtua juga tidak akan mengerti kondisi yang sesungguhnya dihadapi anak-anak dalam kehidupan mereka.

Bersyukurlah orangtua bila si anak memilih dan memiliki teman-teman yang baik dan benar, tapi bila tidak? Maka si anak akan mendapat masukan yang negatif dari sekelilingnya, dimana hal ini seharusnya tidak perlu terjadi bila orangtuanya menjadi tempat curhat yang paling “aman dan nyaman” bagi si anak.

Untuk itu, bersiaplah menjadi pendengar yang baik, seperti pepatah mengatakan, mendengarlah 2 kali untuk berbicara 1 kali. Dengarkan dulu baik-baik sampai si anak selesai bercerita. Lalu tanyakan pendapatnya, apa yang ia butuhkan karena belum tentu ia membutuhkan nasihat tetapi hanya sekedar mencari teman curhat untuk menumpahkan isi hati.

Selamat menjadi pendengar yang baik!!
Read More..

Wednesday, November 11, 2009

MENGASUH ANAK TANPA BERTERIAK

Pertanyaannya, "Memangnya bisa?", "Apa effektif?"

Jawabannya: Selama kita punya kehendak bebas untuk memilih dan menentukan, pasti bisa!

Kebenarannya adalah anak akan merasa diperlakukan seperti seseorang yang sejajar derajatnya atau dihargai sebagai pribadi yg unik ketika kita berbicara dengan mereka tanpa berteriak.

Di samping itu, hal ini sangat menentukan terbentuknya pribadi anak yg percaya diri kelak ketika dia bertumbuh dewasa.

Keefektifannya sudah pasti! Karena tidak ada orang yang dapat menolak ajakan, suruhan ataupun nasehat yg disampaikan dengan perkataan yg lemah lembut.

Selamat mencoba! God bless! (Cil)
Read More..

Monday, October 12, 2009

"Daddy, you can let go now.."

Saya baru saja melihat tayangan video yang di-posting seseorang di akun FB-nya. Judulnya “Daddy, you can let go now”. Selesai melihat keseluruhan tayangan dengan koneksi yang lambat dan saya biarkan dulu terloading semua baru replay, saya terharu. Sangat.

Saya pikir setiap anak perempuan pasti sangat ingin disayang sama papanya.

Beberapa hari lalu saya juga melihat tayangan reality show mencari jodoh yang menampilkan satu peserta perempuan. Dia bilang kangen banget sama papanya. Rupanya si papa pergi ninggalin dia sejak umur 6 tahun. Dia berharap lewat tayangan ini papanya ngeliat dia yang sekarang sudah dewasa dan mau ketemu sama dia, walau cuma sekali. Dia pun menangis.

Saya jadi ingat dengan keponakan perempuan yang baru berumur 5 tahun. Setiap kali ada baju baru, dan papanya pulang. Tidak berapa lama dia berganti pakaian dan lari ke papanya sambil bilang, “Daddy, daddy, aku cantik nggak?” (anak perempuan selalu ingin dibilang cantik, terutama sama papanya lho! Ingat itu!). Papanya cukup bilang, "Cantik!" dan dia puas, lebih dari sekedar puas. (Semudah itu membuat puas anak kecil... :) )

Pelajaran buat para ayah yang memiliki anak perempuan, perlakukanlah si anak sesuai “nature” perempuan yang perasaannya halus alias sangat perasa.
Mungkin Firman Tuhan tentang “hai bapa-bapa jangan sakiti hati anakmu” ditujukan terutama untuk para ayah kepada anak perempuannya.

Kata-kata kasar, perlakuan kasar, tidak peduli/cuek, adalah hal yang dikategorikan “melukai/menyakiti” hati anak-anak. Jangan lakukan itu.

Dan jangan pernah merendahkan anak-anak perempuan yang Tuhan percayakan kepada para ayah karena harga diri, rasa percaya diri anak perempuan, didapat dari seorang figur ayah yang baik….

(Dari berbagai sumber, image: gettyimages.com)

Read More..

Sunday, October 4, 2009

CUMA TUHAN YG SANGGUP MENGUBAHKAN


Kalau manusia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan benar, itu pasti karena Tuhan. Kenapa?

Satu, karena manusia pada dasarnya tidak pernah bisa jadi baik. Percayalah. Kecenderungan manusia itu gak ada yang baik kok (hayo ngaku…). Buktinya, udah tau salah, masih aja dilakuin karena merasa “gak ada pilihan lain” atau karena perintah Tuhan terlalu berat… “nggak dulu deh ngelakuinnya”, gitu.

Dua, perubahan yang dari TUHAN adalah perubahan yang permanen. Jadi sekali dia dijamah TUHAN dan jadi baik, hidupnya akan terus seperti itu. Sementara kalo manusia itu berusaha ngerubah dirinya? Hmm… susyah tuh! Di satu titik, “benteng pertahanan” manusia itu bakal jebol juga, alias gak tahan diri dan berubah lagi ke kebiasaan/dosa lama.

Nah, ini ada hubungannya dengan karakter suami-istri yang unik. Seorang istri entah mengapa selalu ingin merubah pasangannya. Sementara seorang suami tidak pernah mau dirubah, entah kenapa “nature”nya memang begitu. Dan semakin istrinya ngotot ingin supaya dia berubah, dia semakin keukeuh untuk tidak mau berubah! Istilahnya makin “mengkristal”.

Itu sebabnya konflik di antara suami dan istri sering terjadi! Karena masing-masing pihak tidak mengerti akan hal ini. Si istri tetap mau ngerubah suami, si suami semakin marah karena tidak suka kalau istrinya berusaha merubah dia.

Jadi bagaimana?
Setiap kali istri menginginkan perubahan suaminya, seorang istri hanya bisa melakukan hal ini, BERDOA! Selain itu, bagian istri adalah tunduk kepada suami, tepat seperti tertulis dalam Kolose 3:18, “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.”

Jadi selain berdoa, istri harus tunduk kepada suami. Arti kata tunduk adalah: menghormati, menghargai, to honor, to respect, dan satu lagi, “menjaga kekaguman kepada suami terus-menerus/tetap ada, sampai maut memisahkan… till death do us part”…..! (Dari berbagai sumber. Image: www.gettyimages.com)

Read More..

Tuesday, September 15, 2009

Pentingnya Keterbukaan

Catatan tentang penciptaan manusia memberi kita sedikit celah untuk melihat keadaan pernikahan kedua manusia pertama itu. Firman Tuhan menjelaskan, “Mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.” (Kej.2:25).

‘Telanjang’ di sini tidak berarti bahwa mereka tidak tahu bagaimana cara membuat pakaian. Jika memang itu keadaannya, mereka pasti tidak akan dapat membuat pakaian setelah jatuh ke dalam dosa.

Jadi bukannya mereka tidak sanggup, tetapi mereka tidak perlu membuatnya! Di antara mereka tidak ada yang perlu ditutupi karena tidak ada yang dianggap tidak pantas diketahui oleh pasangannya. Hubungan nikah menjadi hubungan yang realistik, bukan hubungan semu yang dilandasi upaya pemenuhan kebutuhan belaka.

Begitulah seharusnya hubungan di antara suami-istri: keterbukaan penuh. Saya kira keterbukaan penuh berkaitan erat dengan kepercayaan satu sama lain. Jika kepercayaan tidak maksimal, mustahil kita dapat terbuka sepenuhnya kepada pasangan kita. Tatkala kepercayaan goyah, kita pun merasa terancam dan akan merasa perlu untuk melindungi diri dari ancaman itu. Sewaktu kita melindungi diri, kita juga menutupi diri. Akibatnya adalah, hubungan nikah kita berhenti bertumbuh sebab masing-masing kita sibuk “membuat dan mengenakan pakaian.”

Komitmen dan Keterbukaan
Dua nasihat dari Firman Tuhan yang perlu kita camkan adalah komitmen dan keterbukaan.

Komitmen untuk tidak meninggalkan pernikahan dan memelihara kesatuan pernikahan.

Pasangan nikah juga harus mempraktekkan keterbukaan yang didasari atas kepercayaan penuh. Kepercayaan karena kita yakin bahwa kita berdua tidak akan meninggalkan pernikahan ini dan tidak akan melakukan hal-hal yang akan menghancurkannya pula. (NN)

Read More..

TOPENG PERNIKAHAN

Banyak pasangan muda memakai “Topeng Pernikahan”. Istilah topeng di sini tidak dengan sendirinya berkonotasi negatif. Topeng mengacu kepada upaya untuk mengesankan pasangan kita dan memenuhi kebutuhannya semaksimal mungkin.

Pada dasarnya kita tidak memberi diri kita yang sebenarnya pada awal pernikahan. Namun topeng bukanlah dikenakan dengan sengaja dan bermaksud untuk mengelabui pasangan kita.

Hubungan suami istri harus menjalani proses waktu sebelum mencapai kedalaman yang bermakna. Kedalaman relasi tidak dapat terjadi dengan seketika atau dipaksakan; ia harus meniti perjalanan hidup bersama hari lepas hari.

Untuk bisa memahami dinamika topeng pernikahan ini, kita perlu mengerti peranan kebutuhan dalam pemilihan pasangan. Ternyata kita tidak memilih pasangan hidup secara acak dan kebetulan. Kita memilihnya melalui suatu kriteria tertentu yakni faktor pemenuhan kebutuhan. Misalnya, jika kita lapar, kita akan mengambil langkah tertentu menuju ke arah mengenyangkan perut kita. Demikian pula dengan pemilihan pasangan hidup. Kita memilihnya karena menurut anggapan kita, ia akan dapat memenuhi kebutuhan tertentu yang kita miliki.

Beberapa kebutuhan mendasar yang kita miliki ialah kasih, penghargaan, keamanan, dan hidup yang bermakna. Jadi, kita memasuki hubungan pernikahan ini dengan pengharapan bahwa kebutuhan ini akan dipenuhi oleh pasangan kita.

Sebaliknya, kita pun menyadari bahwa pasangan kita juga mempunyai pengharapan tertentu kepada kita. Kita tahu bahwa ia bergantung kepada kita untuk memenuhi kebutuhannya itu. Tanpa kita sadari, kita kemudian mencoba untuk memenuhi kebutuhan pasangan kita. Misalnya, kita berupaya menciptakan rasa aman kepadanya, atau membuatnya merasa sangat dikasihi, atau memberikan penghargaan demi penghargaan atas kehadirannya di dalam hidup kita, dan menginjeksikan makna hidup ke dalam kehidupannya yang hampa.

Pada saat kita berusaha memenuhi kebutuhannya itulah, kita akhirnya tidak menjadi diri kita apa adanya. Kita harus berperan sebagai orang yang sanggup mengisi kebutuhannya dan kadang peran ini tidak seluruhnya mewakili keberadaan diri kita.

Semakin jauh jarak antara peran yang kita mainkan dan keberadaan diri yang sesungguhnya, semakin tebal topeng yang kita kenakan, dan semakin berpotensi menimbulkan konflik di kemudian hari.

Pada umumnya topeng ini mulai retak setelah kita memasuki tahun-tahun pertama pernikahan. Kita mulai menyadari bahwa kita tidak bisa terus menerus sabar dan mengasihinya tanpa syarat, atau selalu menghadirkan jaminan keamanan di tengah ketidakmenentuan, atau memberinya penghargaan atas kekurangbisaannya.

Keretakan topeng tidak bisa dihindari. Namun sesungguhnya, keretakan topeng adalah bagian proses pertumbuhan hubungan dalam pernikahan yang sehat. Upaya untuk menghindarinya hanya akan menunda retaknya topeng yang sama itu.

Adakalanya pasangan muda tidak begitu siap menerima proses penanggalan topeng ini dan bersikap panik.

Sesungguhnya pelepasan topeng merupakan kesempatan bagi kita untuk menjejakkan kaki ke level relasi yang lebih tinggi. Pada tahap inilah rasa penerimaan akan sungguh-sungguh dapat dialami dan menjadi dasar pemenuhan kebutuhan kita dengan dia.

Kita akan melihatnya dan dilihatnya secara realistik dan ini akan melahirkan hubungan yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya.

Buanglah ketakutan dan tampilkan diri secara lebih nyata. Ingat, pernikahan yang kuat berdiri di atas kenyataan, bukan di atas harapan. (NN)

Read More..

Tidak Suka, Buang!

Sejak kecil kita terbiasa menyimpan barang yang kita sukai dan membuang yang tidak kita sukai. Pernikahan melibatkan dua individu dengan pola pikir dan gaya hidup yang berbeda.

Tidak bisa tidak, ada pola pikir suami yang kita sukai tetapi pasti ada pula gaya hidup istri yang tidak kita sukai. Masalahnya adalah, pasangan hidup kita bukanlah mainan atau pakaian yang dapat kita campakkan tatkala kita tidak menyukainya lagi. Kita tetap harus makan bersamanya, tidur bersamanya, dan hidup bersamanya walaupun ada hal-hal tentang dirinya yang tidak kita sukai.

Pernikahan memaksa kita melawan sifat kodrati kita yang cenderung membuang barang yang tidak kita sukai dan hanya menyimpan barang yang kita sukai. Segala sesuatu yang bertentangan dengan kodrat manusiawi tidaklah mudah untuk kita tundukkan.

Di dalam dunia tidak ada yang kekal namun di tengah-tengah ketidakkekalan ini, ada sesuatu yang Tuhan tetapkan menjadi lambang kekekalan, yaitu: PERNIKAHAN. Itu sebabnya Tuhan berfirman, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mat.19:6).

PERNIKAHAN MEMBUTUHKAN KOMITMEN
Pernikahan menuntut komitmen—kesetiaan pada janji untuk mengarungi hidup bersama. komitmen bukan saja merupakan palang yang menghalangi kita keluar dari pernikahan, tetapi juga pagar yang mencegah kita agar tidak merusak pernikahan kita.


Dalam Mat 19:5 tertulis, “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.”

Kesatuan suami-istri digambarkan sebagai suatu kesatuan yang permanen dan tidak dapat diuraikan kembali (irreversible), bak larutan air dan sirup yang telah menyatu.

Ingat, komitmen pernikahan bukan hanya komitmen untuk tidak bercerai, tetapi juga untuk menyatukan dan memelihara kesatuan itu.

Firman Tuhan menegaskan prinsip ini melalui pena Paulus kepada Jemaat di Efesus, “Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat.” (5:28-29).

Komitmen pernikahan berlawanan dengan kodrat manusiawi kita yang telah tercemar dosa, yakni membuang yang tidak kita sukai atau yang tidak berguna bagi kita lagi. Komitmen pernikahan meminta kita untuk merawat dan mengasuh hubungan kasih ini agar terus menyatu sampai kekekalan. (NN)

Read More..

Keluarga Retak Menciptakan Pribadi Retak

Saya memasukkan usia pernikahan di bawah 10 tahun sebagai usia pernikahan yang “muda” dan saya mengamati, kelompok inilah yang rawan terhadap perceraian.

Jika ada yang bertanya, apa yang merupakan bahaya terbesar dalam 10 tahun mendatang, saya akan menjawab tanpa ragu, “disintegrasi keluarga!”

Pecahnya unit terkecil dari masyarakat ini bukan saja akan membawa dampak jangka panjang pada kehidupan emosional anak, tetapi akan pula melahirkan pelbagai problem perilaku dan social, yakni kenakalan remaja, pemakaian obat terlarang, seks bebas, dan menurunnya motivasi belajar.

Hampir semua problem perilaku dapat dihubungkan dengan faktor mengendornya keutuhan keluarga dan mengurangnya pengawasan orangtua kepada anak. Selain dari ketiga problem di atas, saya juga memproyeksikan bahwa masalah-masalah seperti homo-seksualitas dan kehamilan/aborsi di kalangan remaja akan menanjak secara substansial.

Agar anak dapat bertumbuh sehat lahir batin, ia bukan saja membutuhkan makanan bergizi, ia pun memerlukan nutrisi emosional yang hanya mungkin didapatnya secara lengkap dari ikatan keluarga yang utuh dan harmonis. (NN)



Read More..

Sunday, September 13, 2009

Luka Yang Tersembunyi...

Hari ini seperti biasa, setiap Minggu pagi saya menghadiri kebaktian bersama keluarga dengan bergairah. Pesan spesial saya dapatkan dari gembala, yaitu tentang tingginya angka perceraian dalam sebuah keluarga.

Firman Tuhan diambil dari Ef 5:22-24. Disitu ditekankan betapa pentingnya peran seorang SUAMI dalam keluarga supaya keluarganya selamat dan bahagia. Suami harus bertindak sebagai Nabi (punya visi), Imam (perantara) dan Raja (kuasa), sebagai aplikasi praktis dimana seorang suami harus bertindak sama seperti Tuhan Yesus memperlakukan jemaat.

Sebagai Nabi: suami harus selalu mencari visi dari Tuhan bagi istri dan anak-anaknya.
Sebagai Imam: suami harus bisa membawa semua anggota keluarganya mendekat kepada Tuhan.
Sebagai Raja: suami harus mengambil otoritas/kuasa pengambil keputusan dalam setiap permasalahan keluarga.

Kisah di Alkitab yang diambil sebagai contoh adalah keluarga Yehuda (cicit Abraham) yang mempunyai 3 anak laki-laki. Anak tertua menikahi seorang perempuan yang takut akan Tuhan bernama Tamar. Dalam Kej 38 (bisa dibaca sendiri semua ayatnya) tertulis bahwa anak sulung ini jahat dimata Tuhan, sehingga Tuhan membunuhnya. Nah, dalam adat istiadat Yahudi, jika laki-laki meninggal tanpa memiliki keturunan, maka adiknya wajib menikahi istrinya demi memberikan keturunan atas nama si kakak.
Singkat cerita anak kedua Yehuda pun berlaku keji dihadapan Tuhan sehingga Tuhan membunuhnya, sehingga Yehuda berjanji memberikan Tamar anaknya yang ketiga yang masih kecil.

Tetapi ternyata janji Yehuda tidak ditepati. Ini menimbulkan sakit hati Tamar, sang menantu, yang mendasarinya berbuat nekat.

Dari kisah ini, kita menemukan bahwa seorang perempuan yang sudah disakiti/terluka hatinya bisa mengalami perubahan sikap. Inilah poin penting yang ingin saya bahas. Betapa sakit hati secara sadar atau tidak bisa timbul dalam hati seorang istri/suami.

Mungkin kita berpikir bahwa sakit hati ini hanya ditimbulkan oleh perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga atau masalah-masalah ekonomi, dsb. Padahal tidak selalu begitu. Karena toh sering kita melihat kenyataan tentang keluarga Kristen yang terlihat baik-baik saja, tapi ternyata bisa bercerai dan hancur. Mengapa?

Ternyata, sesuai Ef 5, pokok permasalahannya adalah jika seorang suami/istri tidak berlaku/berfungsi seperti yang Tuhan mau dalam sebuah keluarga, hal inilah yang akan menimbulkan kekecewaan dalam diri masing-masing pasangan. Dan apabila hal ini tidak dikomunikasikan dengan baik diantara mereka maka muncullah sakit hati.

Pada 1 tahun pertama pernikahan kami, saya mengalami hal ini. Kami sering bertengkar/adu mulut. Saya pun berpikir dan merenung, kenapa hal ini bisa terjadi? Padahal suami saya baik-baik saja. Ia mengasihi keluarganya. Saya pun menjalankan fungsi istri sekaligus ibu dalam keluarga kami. Kami juga melayani bersama-sama di gereja setempat. Apanya yang salah??

Ternyata jawabannya adalah karena kami tidak mengambil peran yang telah ditentukan Tuhan dalam keluarga.

Suami menyerahkan semua masalah dan cenderung “lambat” dalam mengambil keputusan. Sedangkan saya sebagai istri yang dianugrahi Tuhan talenta untuk memimpin selalu tidak sabar menunggu keputusan suami. Akhirnya talenta leadership suami selalu mendapat tekanan hingga “sirna ditelan bumi”. Dan ini menimbulkan luka/kekecewaan dalam diri kami masing-masing. Tetapi puji syukur pada Tuhan Yesus Kristus yang sungguh mengadakan pemulihan dan selalu menunjukkan jalan-jalan kebenaran kepada umatNya.

Saat ini, hari demi hari kami saling belajar dan mengerti bagaimana membina keluarga yang bahagia, selamat sampai sorga. Tuhan Yesus memberkati! (Cil)

Read More..

"Mama Ngomelin Papa"

Saya paling sebel tiap kali denger Mama komplen tentang Papa. "Jorok banget sih!", "Mbok kalo taro handuk pada tempatnya!", "Males banget sih!", "Liat tuh Papamu!", dan lain-lain keluhan yang walaupun semua adalah kenyataan bahwa Papa saya memang seperti yang dikeluhkan. Tapi kok saya bukannya sebel sama Papa ya? Tapi justru sebel sama Mama (kalau gak boleh dibilang muak dan bosan!)! Saya lebih nggak bisa menghargai Mama dibanding Papa... Pengen rasanya saya berteriak, "Brentiiii!!! Brenti ngomongin kejelekan Papa di depankuuu!!! Aku muak!!" di depan Mama. Tapi nggak mungkin kan... Saya nggak tahu lagi mesti bagaimana... (NN)

Di atas adalah curhatan dari seorang anak yang mengaku muak dan bosan sama Mamanya. Dia sulit menghargai sang Mama, karena kebiasaan Mamanya tadi.

Bagi Anda pasangan suami-istri, terutama para istri, percayalah bahwa ketika istri mulai memperkatakan keburukan suaminya, di depan anak-anak, sesungguhnya dirinyalah yang dirugikan lebih banyak. Di samping itu, anak-anak juga tidak akan menghormati ayahnya, ditambah bonus: tidak menghargai ibunya.

Jika ini yang dilakukan oleh para istri. Kami ingin katakan, "Berhentilah melakukan hal ini." Boleh-boleh saja para istri mengeluh tentang sifat buruk suaminya, tapi ingat, jangan lakukan itu di depan anak-anak! Akan lebih baik lagi bila para istri memilih untuk menerima suaminya utuh, apa adanya, dan tidak "bersuara" atas kebiasaan/tabiat buruk suaminya. Kecuali "bersuara" di hadapan TUHAN atau berdoa. Ya, hanya doa dan doa yang bisa dilakukan oleh para istri yang menghadapi suami bertabiat buruk. Sebab hanya TUHAN yang sanggup mengubahkan manusia dari yang bertabiat paling buruk sekalipun menjadi baik melalui proses demi proses secara pribadi (suami dengan TUHAN).

Pesan kami, jangan pernah mengucapkan keburukan suami di depan anak-anak, terlebih lagi di depan pembantu, atau siapapun juga, kecuali dalam konteks "mencari pertolongan" atau sedang dalam konseling dengan konselor pernikahan/keluarga yang sangat bisa dipercaya. Ingat, Firman Tuhan mengatakan bahwa: istri harus tunduk kepada suami. Taati Firman Tuhan ini, dan lihat pembelaan TUHAN kepada para istri dengan caraNYA yang ajaib!

Selamat menaati Firman TUHAN! (R)

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan (Efesus 5:22)
Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. (Kolose 3:18)
Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya (1 Petrus 3:1)



Read More..