Friday, December 18, 2009

Apa TUJUAN PERNIKAHAN?

Tujuan pernikahan bukanlah kebahagiaan (happiness) seperti yang diangan-angankan banyak muda-mudi sebelum menikah, melainkan pertumbuhan (growth). Kebahagiaan itu justru ditemukan di tengah-tengah perjalanan (proses) pernikahan yang dilandasi cinta kasih Kristus.

Kalau tujuan kita menikah adalah bahagia maka pasangan kita akan kita peralat demi mencapai kebahagiaan itu. Itu sebabnya orang yang menikah dengan tujuan bahagia justru yang paling tidak bahagia dalam pernikahannya. Bahkan tujuan ini banyak mengakibatkan perceraian dengan alasan ia tidak merasa bahagia dengan pasangannya.


Agar pernikahan itu bertumbuh maka ada dua syarat yang mesti dimiliki setiap pasangan, yakni:
(a) masing-masing sudah menerima pengampunan Kristus, sehingga masing-masing mampu saling mengampuni selama berada dalam rumah nikah yang masing-masing penghuninya bukanlah orang yang sempurna. Usaha diri sendiri saja pasti akan gagal.

(b) adaptability, artinya masing-masing tidak memaksa atau menuntut pasangannya, sebaliknya mampu saling memahami dan memberi. Masing-masing menjalankan peran (role) dengan baik, serta mampu menerima kelemahan dan kekurangan pasangannya.
Read More..

Thursday, November 19, 2009

KETIKA ANAK BERCERITA KEPADA ORANGTUA

Kalau orangtua diajak bicara oleh anaknya, biasanya seperti ini:
1. terlalu cepat menimpali pembicaraan si anak.
Anak belum selesai bercerita, orangtua sudah memotong cerita itu, dan membuat si anak menarik diri dan tidak lagi melanjutkan ceritanya karena melihat gejala “ditolak” oleh orangtuanya.

2. terlalu cepat menyimpulkan dan memberi nasihat.
Anak belum selesai bercerita, orangtua sudah memberikan nasihat yang sesungguhnya si anak sudah bisa menebak akan dinasihati apa. Ini membuat si anak akhirnya menarik diri dan batal bercerita.

Ingat, seorang anak hanya bercerita kepada orangtua/orang lain jika ia merasa “aman” dan “nyaman” menceritakan kisahnya kepada orang tersebut.

Tapi bila kondisi ini tidak terpenuhi karena kedua hal di atas, akibatnya si anak akan mencari “tempat curhat” yang lain. Dan itu sama artinya dengan tidak lagi menceritakan isi hati kepada orangtuanya. Padahal… dalam hati anak banyak tersimpan “rahasia”, bagaimana perasaannya yang terdalam tentang segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya. Dan untuk ini orangtua harus tahu apa yang sedang disimpan dalam hati anak-anaknya, karena jika tidak, maka orangtua juga tidak akan mengerti kondisi yang sesungguhnya dihadapi anak-anak dalam kehidupan mereka.

Bersyukurlah orangtua bila si anak memilih dan memiliki teman-teman yang baik dan benar, tapi bila tidak? Maka si anak akan mendapat masukan yang negatif dari sekelilingnya, dimana hal ini seharusnya tidak perlu terjadi bila orangtuanya menjadi tempat curhat yang paling “aman dan nyaman” bagi si anak.

Untuk itu, bersiaplah menjadi pendengar yang baik, seperti pepatah mengatakan, mendengarlah 2 kali untuk berbicara 1 kali. Dengarkan dulu baik-baik sampai si anak selesai bercerita. Lalu tanyakan pendapatnya, apa yang ia butuhkan karena belum tentu ia membutuhkan nasihat tetapi hanya sekedar mencari teman curhat untuk menumpahkan isi hati.

Selamat menjadi pendengar yang baik!!
Read More..

Wednesday, November 11, 2009

MENGASUH ANAK TANPA BERTERIAK

Pertanyaannya, "Memangnya bisa?", "Apa effektif?"

Jawabannya: Selama kita punya kehendak bebas untuk memilih dan menentukan, pasti bisa!

Kebenarannya adalah anak akan merasa diperlakukan seperti seseorang yang sejajar derajatnya atau dihargai sebagai pribadi yg unik ketika kita berbicara dengan mereka tanpa berteriak.

Di samping itu, hal ini sangat menentukan terbentuknya pribadi anak yg percaya diri kelak ketika dia bertumbuh dewasa.

Keefektifannya sudah pasti! Karena tidak ada orang yang dapat menolak ajakan, suruhan ataupun nasehat yg disampaikan dengan perkataan yg lemah lembut.

Selamat mencoba! God bless! (Cil)
Read More..

Monday, October 12, 2009

"Daddy, you can let go now.."

Saya baru saja melihat tayangan video yang di-posting seseorang di akun FB-nya. Judulnya “Daddy, you can let go now”. Selesai melihat keseluruhan tayangan dengan koneksi yang lambat dan saya biarkan dulu terloading semua baru replay, saya terharu. Sangat.

Saya pikir setiap anak perempuan pasti sangat ingin disayang sama papanya.

Beberapa hari lalu saya juga melihat tayangan reality show mencari jodoh yang menampilkan satu peserta perempuan. Dia bilang kangen banget sama papanya. Rupanya si papa pergi ninggalin dia sejak umur 6 tahun. Dia berharap lewat tayangan ini papanya ngeliat dia yang sekarang sudah dewasa dan mau ketemu sama dia, walau cuma sekali. Dia pun menangis.

Saya jadi ingat dengan keponakan perempuan yang baru berumur 5 tahun. Setiap kali ada baju baru, dan papanya pulang. Tidak berapa lama dia berganti pakaian dan lari ke papanya sambil bilang, “Daddy, daddy, aku cantik nggak?” (anak perempuan selalu ingin dibilang cantik, terutama sama papanya lho! Ingat itu!). Papanya cukup bilang, "Cantik!" dan dia puas, lebih dari sekedar puas. (Semudah itu membuat puas anak kecil... :) )

Pelajaran buat para ayah yang memiliki anak perempuan, perlakukanlah si anak sesuai “nature” perempuan yang perasaannya halus alias sangat perasa.
Mungkin Firman Tuhan tentang “hai bapa-bapa jangan sakiti hati anakmu” ditujukan terutama untuk para ayah kepada anak perempuannya.

Kata-kata kasar, perlakuan kasar, tidak peduli/cuek, adalah hal yang dikategorikan “melukai/menyakiti” hati anak-anak. Jangan lakukan itu.

Dan jangan pernah merendahkan anak-anak perempuan yang Tuhan percayakan kepada para ayah karena harga diri, rasa percaya diri anak perempuan, didapat dari seorang figur ayah yang baik….

(Dari berbagai sumber, image: gettyimages.com)

Read More..

Sunday, October 4, 2009

CUMA TUHAN YG SANGGUP MENGUBAHKAN


Kalau manusia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan benar, itu pasti karena Tuhan. Kenapa?

Satu, karena manusia pada dasarnya tidak pernah bisa jadi baik. Percayalah. Kecenderungan manusia itu gak ada yang baik kok (hayo ngaku…). Buktinya, udah tau salah, masih aja dilakuin karena merasa “gak ada pilihan lain” atau karena perintah Tuhan terlalu berat… “nggak dulu deh ngelakuinnya”, gitu.

Dua, perubahan yang dari TUHAN adalah perubahan yang permanen. Jadi sekali dia dijamah TUHAN dan jadi baik, hidupnya akan terus seperti itu. Sementara kalo manusia itu berusaha ngerubah dirinya? Hmm… susyah tuh! Di satu titik, “benteng pertahanan” manusia itu bakal jebol juga, alias gak tahan diri dan berubah lagi ke kebiasaan/dosa lama.

Nah, ini ada hubungannya dengan karakter suami-istri yang unik. Seorang istri entah mengapa selalu ingin merubah pasangannya. Sementara seorang suami tidak pernah mau dirubah, entah kenapa “nature”nya memang begitu. Dan semakin istrinya ngotot ingin supaya dia berubah, dia semakin keukeuh untuk tidak mau berubah! Istilahnya makin “mengkristal”.

Itu sebabnya konflik di antara suami dan istri sering terjadi! Karena masing-masing pihak tidak mengerti akan hal ini. Si istri tetap mau ngerubah suami, si suami semakin marah karena tidak suka kalau istrinya berusaha merubah dia.

Jadi bagaimana?
Setiap kali istri menginginkan perubahan suaminya, seorang istri hanya bisa melakukan hal ini, BERDOA! Selain itu, bagian istri adalah tunduk kepada suami, tepat seperti tertulis dalam Kolose 3:18, “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.”

Jadi selain berdoa, istri harus tunduk kepada suami. Arti kata tunduk adalah: menghormati, menghargai, to honor, to respect, dan satu lagi, “menjaga kekaguman kepada suami terus-menerus/tetap ada, sampai maut memisahkan… till death do us part”…..! (Dari berbagai sumber. Image: www.gettyimages.com)

Read More..